Kabar Politik Terupdate

banner puasa

WAWANCARA PROF APRIDAR ; Kerja Itu Harus Pakai Strategi

440 0

 

SIANG itu disela kesibukannya, Kamis, 14 Oktober 2016, Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, Prof Dr Apridar SE, MSi menerima tim Politikita.com di ruang kerjanya. Beberapa menit sebelumnya, Prof Apridar baru saja menerima tamu dari sebuah bank milik negara.

 

“Biasa, rencana kerjasama,” sebut pria yang lahir di Aceh Utara, 13 April 1967 ini. Dia pun lalu meminta sekretarisnya, Rahma, menyuguhkan teh hangat. “Minum teh dulu,” sambung doktor Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan ini menyapa kami.

 

Siang itu, pria berkumis tebal ini menyediakan waktu hingga sore hari untuk sebuah wawancara. Meminta waktu untuk wawancara pun terbilang mudah. “Kapan saja bisa, tak usah pakai jadwal segala,” katanya lagi.

 

Berikut petikan wawancara lengkap tim Politikita.com dengan penulis sejumlah buku ekonomi ini ;

 

Ini periode kedua memimpin Universitas Malikussaleh, apa harapan Anda?

Harapannya sama. Sejak awal terpilih menjadi rektor, saya selalu berharap agar kampus ini berkembang pesat. Setara dengan kampus lainnya di tanah air. Meski kita baru berusia belasan tahun negeri, namun kita harus setara dengan kampus lainnya. Mimpi kita begitu. Boleh dong kita bermimpi agak tinggi, lalu diiringi dengan usaha dan doa.

 

Lalu, hasilnya?

Anda bisa lihat sendiri. Sekarang ini akreditasi institusi kita nilainya B. Ini setara dengan Universitas Sumatera Utara (USU) dan kampus ternama lainnya. Di luar Pulau Jawa, kampus yang terakreditasi dengan nilai A itu hanya tiga, ingat loh ya, hanya tiga yaitu Universitas Andalas, Universitas Hasanuddin dan Universitas Syah Kuala.

 

Di Aceh, yang terakreditasi B itu hanya Universitas Malikussaleh dan Politeknik Aceh. Jadi, kerja keras kita, saya dan tim akhirnya membuahkan hasil. Tentu ini berkat dukungan doa semua pihak. Dari mahasiswa hingga alumni, dari orang tua wali hingga muspida. Seluruhnya memberi andil untuk kampus ini.

 

Apa perbedaan mendasar periode pertama dan periode kedua kepemimpinan Anda?

Di awal kepemimpinan, usai pemilihan saya mengajak semua teman-teman melupakan debat pemilihan. Bahwa sebagaimana pemilihan, tentu ada yang terpilih dan tidak. Mari melupakan itu. Kita fokus pada pembangunan kampus saja. Bergandengan tangan dan bekerja sama, bekerja keras dan bekerja cerdas.

 

Fokus Anda di periode pertama?

Ohya, saat itu kan laboratorium kita belum banyak. Saya targetkan, laboratorium dulu. Jadi, seluruh jurusan di teknik dan pertanian kita fokuskan pendirian laboratoriumnya. Periode pertama kita bangun tujuh laboratorium. Dan, itu sungguh melelahkan. Namun, saya senang, kerja lelah ini menghasilkan. Sekarang kita punya laboratorium yang lengkap.

 

Sekarang fokus Anda apa?

Periode kedua kita fokus pada akreditasi institusi. Apalagi ditambah ada aturan dari kementerian bahwa mulai diberlakukan akreditasi institusi. Dulunya, akreditasi itu kan hanya tingkat jurusan saja. Aturan baru, kita ikuti. Kita siapkan tim akreditasi, saya kontrol terus tim itu. Hasilnya, nilai kita B.

 

Apa strategi untuk mendapatkan institusi B itu?

Tidak ada strategi khusus sebenarnya. Namun, saya sangat apresiasi kinerja dan kekompakan tim akreditasi. Saya salut semangat mahasiswa, dosen, dekan dan staf untuk melengkapi borang akreditasi. Mereka ini bekerja siang dan malam. Itu sungguh melelahkan. Saya tahu mereka juga mengantuk, lelah dan tegang. Namun, semangat mereka luar biasa. Saya sangat apresiasi itu.

 

Satu hal yang penting, saya apresiasi kedatangan lembaga mitra. Alumni yang sudah jadi kepala dinas pun pulang ke Unimal di hari tim asesor BAN PT berkunjung. Bahkan, Kapolda Aceh saat itu, Irjen Pol Husein Hamidi juga meluangkan waktu datang ke kampus. Kajari Lhoksukon saat itu, T Rahmatsyah, Kapolres Aceh Utara, semua hadir. Saya sangat salut dukungan Muspida Plus Lhokseumawe dan Aceh Utara.

 

Apalagi, Pak Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, membatalkan janji dengan kementerian untuk menyambut tim asesor. Itu sungguh mengharukan. Saya sangat terharu atas dukungan begitu besar tersebut.

 

Setelah akreditasi B, lalu apa?

Nah, ini kan keniscayaan. B sudah ada ditangan. Sekarang selangkang lagi, kita harus dapat akreditasi A. Ingat loh ya, akreditasi A itu bukan hal mustahil. Jangan jadi manusia pesimis. Kita itu harus optimis.

 

Untuk mendapat A, apa yang telah disiapkan?

Ha ha ha…Banyak sekali yang harus disiapkan. Ini bukan kerja saya sendiri. Harus didukung penuh oleh semua jajaran Unimal. Misalnya, sekarang saya intruksikan seluruh jurusan yang masih C ada beberapa lagi itu, harus terakreditasi B. Kan malu-maluin, akreditasi institusi kita yang berat saja nilainya B, lah, kok akreditasi jurusan yang mudah masih C. Ini keterlaluan namanya.

 

Caranya bagaimana?

Kita perketat penyiapan borang di level jurusan. Caranya begini, tim jurusan yang menyiapkan borang akreditasi itu harus membawa naskah borang itu ke Lembaga Penjamin Mutu di bawah Pak Mohd Heikal. Nah, di sana nanti dinilai, diteliti apa yang belum lengkap dan seterusnya. Jika sudah lengkap, baru dipersilahkan tim jurusan membawa borang akreditasi itu ke BAN PT di Jakarta. Sederhananya, tim akreditasi jurusan harus mendapatkan stempel lulus uji dulu dari Lembaga Penjamin Mutu.

 

Jika tak mendapat stempel dari Penjamin Mutu?

Ya, jangan coba-coba bawa borang itu ke BAN PT Jakarta. Buat apa dibawa kalau hasilnya juga nanti nilainya C. Itu tandanya kita tidak kreatif dan tak mau berusaha. Hasilnya harus lebih baik, minimal B. Bagi yang sekarang jurusan akreditasi B maka harus mendapatkan A.

 

Jika tak mendapatkan stempel dari Lembaga Penjamin Mutu? Namun masih membandel juga, misalnya diam-diam membawa borang itu ke Jakarta, maka saya intruksikan ke bagian keuangan, jangan dibayarkan biaya akreditasi jurusan itu. Ini sebagai efek jera. Harus ikut strategi yang kita susun. Kan, ini untuk kebaikan kita juga. Kebaikan semua. Ini harus dicamkan bersama.

 

Nah, target berikutnya apa?

Saya dan tim mendirikan Rumah Sakit Pendidikan Malikussaleh. Tahun lalu kita letakan batu pertama. Tentu, membangun rumah sakit tidak mudah. Ini butuh beberapa tahun baru rampung. Bisa jadi, rampung pada saat saya tak lagi menjadi rektor. Namun, usaha ke arah sana telah kita lakukan. Kita punya Fakultas Kedokteran, ya menjadi keharusan dan misi bersama untuk memiliki Rumah Sakit Pendidikan. Sehingga, rumah sakit itu bisa jadi laboratorium untuk meneliti berbagai penyakit di masyarakat, menemukan serum penyembuhnya dan seterusnya.

 

Selama jadi pimpinan, pernah tidak merasakan kesal pada bawahan?

Manusiawi sekali itu. Kesal itu manusiawi.

 

Biasa kesal karena apa?

Saya kesal, kalau instruksi saya tidak dijalankan dengan baik. Itu saya sungguh kesal. Saya catat pejabatnya yang tidak menjalankan instruksi itu. Tentu saya punya cara menegurnya. Jangan berpikir saya tidak memperhatikan kinerja teman-teman ini. Semua itu saya catat dengan baik. Mana yang berprestasi, mana yang hanya jagonya ngomong saja tapi kinerjanya nihil, mana yang diam tapi kinerjanya bagus. Manusia itu kan karakternya berbeda-beda. Tentu, pendekatannya juga berbeda.

 

Pola komunikasi dengan mahasiswa bagaimana?

Wah dunia sudah canggih kan. Bisa via whatsapp dan lain-lain. Saya banyak tahu kok laporan mahasiswa. Beberapa mahasiswa kerap mengirimkan pesan, isinya macam-macam. Ada yang melapor dosennya telat masuk. Ada yang melapor mengundang saya untuk membuka acara dan lain lain. Kalau ada keluhan mahasiswa, saya copi keluhannya, saya hapus nama mahasiswa yang melapor, saya teruskan ke bidang yang bersangkutan. Biar mereka bisa tindaklanjuti keluhan itu.  Prinsipnya ingin melayani. Semua staf harus tahu, bahwa kita ini pelayan. Saya ini juga pelayan kan.

 

Saya tegaskan, berkali-kali, bagian kemahasiswaan itu alangkah indahnya, alangkah baiknya, membuat pertemuan dengan mahasiswa secara rutin. Bisa sebulan atau dua bulan sekali. Kan begitu enak. Jadi, kita tahu apa keluhan mahasiswa, dan seterusnya. Saya intruksikan ini ke Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan.

 

Oke, bagaimana dengan kerjasama?

Banyak sekali kerjasama kita. Ada yang dalam dan luar negeri. Bidangnya khusus tri darma, misalnya pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

 

Luar negeri kerjasama dengan lembaga apa?

Banyak sekali. Saya tidak ingat semuanya. Misalnya kita bekerjasama dengan beberapa universitas di Malaysia, Jerman dan Korea Selatan. Itu semua dalam rangka pertukaran pelajar, pertukaran dosen, peneliti dan seterusnya.

 

Dengan badan usaha bagaimana?

Itu juga ada. Namun jumlahnya belum begitu banyak. Misalnya, kita bekerjasama dengan PT Pupuk Iskandar Muda soal rekrutmen karyawan. Unimal bisa menjadi tim seleksi sesuai kriteria yang dibutuhkan PT PIM.

 

Bagaimana soal alumni?

Saya bangga pada alumni. Banyak sekali alumni yang sukses, meski tidak sedikit juga yang kurang beruntung. Saya tekankan, ada lembaga, namanya CDC, ketuanya itu Ibrahim Qamarius. Di situ, lembaga mitra alumni. Saya intruksikan juga, Pak Ibrahim, harus mencari sebanyak-banyaknya peluang kerjasama dengan lembaga usaha. Agar alumni kita bisa terdistribusi ke lembaga tersebut. Tentu alumni yang memenuhi kriteria perusahaan tersebut. Ini sudah saya tegaskan ke Pak Ibrahim. Semoga ini bisa berjalan cepat.

 

Saya senang ada alumni misalnya, ketika datang ke saya, sudah menjadi manajer perusaha A, sudah memimpin bisnis ini dan bisnis itu. Wah, itu bahagia sekali saya. Saya ini kan dosen. Kebahagiaan dosen itu tak lain adalah ketika melihat mahasiswa sukses. Lebih baik lagi jika lebih sukses dari pada dosennya. Artinya, dosennya pinter, berhasil mendidiknya, hingga hasil dididikannya lebih hebat dari pada dia.

 

Baik, terakhir, apa susah dan senangnya jadi Rektor?

Wah, senangnya, apa ya. Saya senang itu ketika kita ini bisa sukses bersama. Sangat bahagia saya melihat perkembangan kampus ini dari waktu ke waktu terus membaik. Gedung-gedung mulai lengkap, laboratorium juga begitu. Saya kan tak selamanya jadi rektor. Paling tidak, saya sudah berbuat sebegini loh yang saya bisa kerjakan. Tentu, sekali lagi, ini bukan kerja saya sendiri. Kerjasama tim yang solid.

 

Susahnya?

He he he (sejurus kemudian minum air mineral). Susahnya, mengatur orang demi orang itu kan tidak mudah. Butuh kesabaran dan butuh ketekunan. Itu tadi yang saya sebut, karakter kita kan berbeda-beda. Bagaimana saya memahami karakter semua tim. Ada karakter yang lembut, kasar dan seterusnya. Ada yang orangnya pendiam, tak banyak bicara, tapi kerjanya bagus. Sebaliknya, yang banyak bicara, lapor ini dan itu, namun hasilnya nol. Tapi, saya bukan menganggap itu susah. Saya memaknai perbedaan sebagai anugerah.

 

 

RIWAYAT SINGKAT

 

Identitas Pribadi

Nama            : Prof Dr Apridar SE, MSi

Lahir               : Aceh Utara / 13 April 1967

Pendidikan  : Doktor Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Jabatan       : Rektor Universitas Malikussaleh

Email              : apridarunimal@yahoo.com / rektor@unimal.ac.id

 

 

Pengalaman Kerja

  • Pembina dan konsultan Baitul Qiradh se-Aceh Utara 1995-2005
  • Ketua Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Malikussaleh 2000-2002
  • Konsultan Program Pemberdayaan Daerah Dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi, Aceh Utara 2000
  • Dekan Fakultas Ekonomi Unimal 1999-2002
  • Wakil Ketua Tim Independen Penerimaan CPNS Aceh Utara 2001
  • Pembantu Rektor Bidang Adm, Umum dan Keuangan Unimal 2002-2006

 

Pengalaman Organisasi

  • Ketua Umum Senat Mahasiswa Unsyah 1991-1992
  • Pimpinan Umum Majalah Mahasiswa Kampiun Unsyah 1992-1993
  • Ketua KNPI Lhokseumawe 2001-2005
  • Ketua Organisasi Daerah ICMI Lhokseumawe 2006-sekarang

 

Buku

  • Tsunami Aceh; Adzab atau Musibah, Penerbit Al Kausar, Jakarta
  • Ekonomi Moneter, Unimal Pres, Lhokseumawe
  • Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah, Unimal Pres, Lhokseumawe
  • Ekonomi Internasional, Graha Ilmu, Jogjakarta
  • Teori Ekonomi, Graha Ilmu, Jogjakarta
  • Ekonomi Kelautan dan Pesisir, Graha Ilmu, Jogjakarta
  • Statistika Ekonomi, Unimal Pres, Lhokseumawe
  • Reformulasi Mikro dan Makro Ekonomi Syariah sebagai Sistem Ekonomi Alternatif, Unimal Pres, Lhokseumawe, Graha Ilmu, Jogjakarta
  • Daya Saing Ekspor Ikan Tuna Indonesia Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, Unimal Pres, Lhokseumawe
  • Ekonomi Peradaban, Graha Ilmu, Jogjakarta

 

 

 

Comments

comments