Kabar Politik Terupdate

banner puasa

Tgk Matang; Dari Peluru ke Surat Suara

101 0

Tgk Matang (kanan) ketika mengikuti sebuah kegiatan di kantor DPR Aceh, Februari 2017 lalu.

SUATU malam di tahun 1998, saya melihat seorang lelaki kurus berpakaian blazer panjang hitam dengan sepatu koboi membungkus kakinya. Kancing jubahnya dibiarkan terbuka sehingga di balik blazer hitam itu terlihat sepucuk pistol tergantung di pinggangnya. Beberapa pria bersenjata laras panjang terlihat di antaranya lelaki kurus tersebut.

Lelaki itu, berceramah di sebuah surau (meunasah), mengenai Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia banyak bercerita tentang gerakan tersebut, kekuatan, target, dan berbagai informasi yang sulit diverifikasi akurasinya. Saya pikir, ini ceramah doktrinal dan agitasi.

Saya tidak pernah menyangka, tujuh tahun kemudian berjumpa lagi dengan lelaki kurus itu dalam kesempatan terpisah. Bukan sekadar mengenal, bahkan saya mulai akrab dengannya dan baru tahu namanya Syahrir M Daud. Dulu, ia lebih dikenal dengan nama lakab (samaran) Teungku Matang.

Ia dipanggil Teungku Matang karena lahir di Matang Glumpang Dua Kabupaten Bireuen pada 21 Juli 1961. Medio Agustus 2007 atau dua tahun setelah perjanjian damai MoU Helsinki antara Pemerintah Indonesia dengan GAM, saya mewawancarai lelaki itu untuk surat kabar harian Jurnal Nasional, di mana saya bekerja sebagai koresponden di wilayah Aceh. Saat itu, saya mendapatkan tugas untuk membuat profil sejumlah mantan gerilyawan GAM yang kini menekuni berbagai profesi. Teungku Matang bukan satu-satunya orang yang saya wawancarai. Masih ada satu mantan anggota GAM lainnya yang kemudian menjadi penjual minyak eceran.

Teungku Matang kemudian menjadi anggota Komisi Independen Pemilihan atau KIP Kota Lhokseumawe. Kalau dulu ia mendoktrin masyarakat tentang GAM, ia kemudian banyak berpidato tentang tahapan pemilu dan pilkada. Sebagai komisioner, tugas melakukan sosialisasi tentang pemilu di lakukan di berbagai daerah tugasnya.

Gaya bicara Teungku Matang cepat dan penuh keyakinan, selincah gerak-geriknya dalam berjalan. Dalam setiap pembicaraan, ia banyak bercanda. Ketika Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia, Husni Kamil Manik, berkunjung ke Lhokseumawe pada 2016, ia menyatakan keyakinannya bahwa pilkada di Lhokseumawe akan berjalan dengan sukses.

“Kenapa begitu, Pak?” tanya sejumlah orang penasaran. Mereka pikir, ini menjadi diskusi yang serius sebab Husni Kamil Manik sudah berkunjung ke beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Aceh, tetapi tidak pernah melontarkan pernyataan demikian.

“Sebab,” jawab Husni Kamil Manik kemudian, “pilkada di Lhokseumawe dipersiapkan dengan Matang!”

Semuanya tertawa terkekeh-kekeh. Tidak menyangka Husni Kamil Manik akan mencandai Teungku Matang. Kisah ini saya ingat dengan baik karena tak lama setelah itu, Husni Kamil Manik meninggal dunia karena sakit.

Meski bercanda, pernyataan Husni Kamil Manik memang benar adanya sebab tahapan pilkada di Lhokseumawe berjalan sukses. Teungku Matang bersama komisioner lain berhasil melaksanakan seluruh tahapan dengan baik.[www.steemit.com/@ayijufridar.com]

 

 

Comments

comments