Kabar Politik Terupdate

banner puasa

Pengumuman Kabinet Molor, Pasar Khawatir

143 0

Joko Widodo-Jusuf Kalla

Joko Widodo-Jusuf Kalla

POLITIKITA- Nilai tukar rupiah putar balik dari arah penguatan terhadap dollar AS. Ekonom Mandiri Institute Destry Damayanti menilai, ekspektasi pasar yang kelewat tinggi bahwa Joko Widodo-Jusuf Kalla dapat segera tancap gas dengan gerbong barunya kandas, setelah pembentukan kabinet mengalami banyak tarik-ulur.

Destry melihat mata uang garuda begitu cepat balik arah dari Rp 12.200 menuju Rp 11.900 pada saat Jokowi berhasil approach ke Prabowo Subianto. Menurut Destry, peristiwa itu mematahkan ekspektasi market bahwa akan terjadi deadlock antara pemerintah dengan parlemen.

“Ternyata Jokowi membuktikan dengan gaya politiknya beliau yang humble dan low profile. Dia deketin dan kayaknya berhasil, itu sudah selesai kasih sentimen positif. Tiba-tiba sekarang pembentukan kabinet ini, terulur-ulur kayak gini,” kata Destry ditemui di sela-sela International Financial Inclusion Forum, Kamis (23/10/2014).

Destry lebih lanjut menyampaikan vakumnya kabinet memberikan ketidakpastian pada pasar. “Jadi market juga mikir, ada apa lagi ini? Karena sepertinya pihak dari koalisi Pak Prabowo sudah clear kan,” lanjut Desrtry.

Tadinya, kata dia, market berharap pemerintahan Jokowi-JK bisa terbentuk solid dan langsung bekerja, sebagaimana jargon yang selama ini diumbar “Kerja, kerja, kerja”.

“Sebenarnya juga memang Pak Jokowi “menjanjikannya banyak” bahwa kita akan langsung kerja, dari maritim, pertanian, masyarakat bawah. Itu janji-janji beliau yang berulang-ulang disebutkan, dengan speech “Kabinet kerja, kerja, kerja”. Ini menandakan pemerintahan ini akan beda,” kata Destry dengan nada menyayangkan.

Tentunya, kata dia, janji-janji Jokowi-JK itu dilihat sebagai sesuatu yang berbeda dari pemerintahan sebelumnya. Namun jelas, cita-cita membentuk “Kabinet kerja, kerja, kerja” membutuhkan orang-orang yang bukan asal-asalan dalam gerbong kabinet.

“Jadi itu ekspektasi pasar. Bahwa sekarang masih dalam proses, itu membuat market khawatir ada apa dan dampak ke depannya bagaimana,” ucap Destry.

Dipengaruhi non-fundamental

Destry melihat, rupiah yang kembali melemah paska inagurasi Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden, 20 Oktober 2014, lebih disebabkan faktor non-fundamental. Fundamental perekonomian global dan domestik dinilai justru menjadi pendorong penguatan rupiah.

“Tone dari AS tidak agresif lagi hokies nya, malah mereka (market) melihatnya agak sedikit hokies,” kata dia soal pengaruh AS.

Hal tersebut didorong, perkiraan dari naiknya suku bunga bank sentral AS yang bisa jadi meleset dari prediksi awal. Sebelumnya, analis pasar memperkirakan Fed fund rate akan naik pada kuartal pertama 2015.

“Sekarang beda lagi karena ada data AS yang tidak sekuat yang diperkirakan,” ucap dia.

Konsekuensinya, seharusnya rupiah dan nilai tukar mata uang regional bisa menguat. Sementara itu, di sisi domestik, fundamental juga cukup baik ditopang rilis data investasi kuartal tiga 2014. Foreign direct investment masih tumbuh dobel digit dibanding tahun lalu. Sedangkan, investasi langsung secara keseluruhan masih tumbuh di kisaran 14 persen (YoY).

Data inflasi Oktober juga diprediksi masih rendah, dan semestinya tidak memberikan tekanan terhadap rupiah. Sehingga sampai akhir tahun, Destry memperkirakan indeks harga konsumen masih akan di bawah 5 persen.

Neraca pembayaran ada kecenderungan lebih baik, seiring dengan kembali ekspornya dua raksasa tambang PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) “Jadi mestinya fundamental tidak ada. Jadi kesimpulannya ini lebih ke faktor non-fundamental,” kata Destry.(kompas)

Comments

comments