Kabar Politik Terupdate

banner puasa

Menikmati Mobil Mewah

248 0

WALI KOTA Lhokseumawe, Suaidi Yahya sebentar lagi akan menunggangi mobil senilai Rp 1 miliar. Sudah ada pemenang tender mobil itu. Langkah serupa disusul oleh Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, Wakil Bupati Aceh Utara Fauzi Yusuf. Aceh Utara sedang mengusulkan pembelian tiga unit mobil mewah senilai Rp 3,3 miliar.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah juga akan menunggangi kendaraan mewah senilai Rp 1,6 miliar. Sederetan mobil mewah kepala daerah itu menunjukan kesenangan pejabat kita menunggangi barang mewah. Tentu, alasannya memudahkan operasional. Memudahkan kepala daerah menjelajah sejumlah wilayahnya.

Salahkah membeli mobil mewah? Ah, tidak ada yang salah. Namun, ini soal etis atau tidak. Bukan soal boleh atau tidak. Pertanyaannya misalnya, Lhokseumawe dengan hutang puluhan miliar, masih etiskah membeli mobil mewah untuk seorang kepala daerah?

Begitu juga Aceh Utara, dengan sengkarut masalah yang ada, semisal defisit anggaran, rumah duafa yang menurut data versi pemerintah mencapai puluhan ribu unit itu, apalagi gaji 13 buat 13 ribu lebih pegawai belum dibayar hingga kini. Etiskah pada saat yang sama membeli mobil mewah.

Inilah yang kemudian ditutut publik, pejabat harus sensitif atas kebutuhan rakyatnya. Sensitifitas ini soal nurani, kepekaan akan isu-isu sekitar. Tamsilnya, jika Anda berkunjung ke desa-desa, lalu tersentuh melihat gubuk reot warga, kemudian berupaya memperbaiki kondisi itu semampu Anda, itulah sisi sensitif.

Lalu, soal mobil, apakah tidak ada mobil lebih murah, di bawah Rp 1 miliar, bisa digunakan menjelajah bumi Aceh Utara apalagi Lhokseumawe manyoritas pusat kota dan beraspal mulus.

Rasanya mobil seharga Rp 500 juta ke bawah pun bisa digunakan untuk menyusuri seluruh pelosok. Memang, mobil dicap sebagai salah satu gengsi bagi pejabat kita. Namun, inilah soal pilihan saja. Apakah ingin terlihat mewah, atau ingin fokus menggunakan dana publik untuk pemangkunya-rakyat-sebagai pemegang mandat kekuasaan sesungguhnya.

Sekali lagi, ini bukan soal boleh atau tidak. Namun soal etis atau tidak.

Bisa jadi Anda akan berpendapat lain. Bisa mendukung, bisa pula menolak soal beli mobil itu. Ah, tergantung sudut pandang kita. Dan itu suatu keniscayaan. | STEEMIT.COM/MASRIADI

 

Comments

comments