Kabar Politik Terupdate

banner puasa

Ely dan Cerita Narapidana

290 0

Kepala Lapas IIA, Lhokseumawe, Ely Yuzar

 

SEORANG napi terlihat sibuk. Tangannya lincah memegang mesin pemotong. Suara bising mesin pemotong besi terdengar nyaring di halaman Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA, Kota Lhokseumawe, Sabtu (28/1/2017). Sejumlah narapidana sibuk dengan peralatan ditangannya. Ada yang memotong kaca, mengelas, sebagian lagi terlihat menjemur rangka lemari yang baru selesai dicat.

Kepala Lapas IIA, Lhokseumawe, Ely Yuzar, menyebutkan sejak tiga pekan terakhir, sembilan narapidana saban hari berja membuat lemari, meja rias, dan aneka lemari lainnya.

Namun, belum ada produk yang dijual. “Rencananya dalam bulan ini kami launching hasil kerajinan para narapidana. Makanya, belum dijual dulu. Tapi, beberapa pembeli sudah datang untuk memastikan barang untuk mereka,” kata Ely.

Mantan Kepala Lapas Padang, Sumatera Barat ini menyebutkan niat membuat usaha untuk para narapidana itu dilakukan sejak akhir tahun lalu. Namun, saat itu hanya ada satu narapidana yang bisa membuat aneka kerajinan.

“Maka, dilatih dulu para narapidana ini. Sehingga, mereka bisa memotong kaca dengan benar, lalu memasangnya ke lemari atau meja,” ujarnya. Sekarang, sambung Ely, sembilan narapidana sudah bisa memproduksi meja, lemari dan lain sebagainya.

Menurutnya, mengapa kerap terjadi kerusuhan di lembaga pemasyarakatan? “Itu karena para narapidana nggak ada kegiatan di dalam. Bayangkan, betapa suntuknya mereka nggak ada kegiatan. Ke luar dilarang, maka rusuh jadinya,” ujarnya.

Jika ada kegiatan, apalagi bisa menambah penghasilan untuk diberi ke anak-istri di luar rumah tahanan, maka itu menjadi pemicu mereka untuk tenang. “Mereka ndak akan ribut lagi kalau sibuk bekerja kan,” katanya sambil tertawa.

Dia menargetkan seluruh narapidana itu bisa bekerja dan menghasilkan karya. “Kami bekerjasama dengan Bank Indonesia Lhokseumawe. Nanti produk seperti meja dan lemari langsung dibeli oleh mereka. Ini menjamin pasar,” katanya.

Ely mengaku membuat aneka kerajinan narapidana bukan kali pertama dilakukan. Ketika di Padang, dia juga melakukan hal serupa. “Di sana pasarnya lebih besar. Ini kita mulai pelan-pelan,” ujarnya.

Dia berharap dalam tahun ini, seluruh narapidana bisa diajak berlatih menghasilkan karya dan laik jual. “Sekarang ada 406 narapidana. Itu jumlah yang besar, sipir saya hanya 18 yang aktif. Jika narapidana rusuh, diludahi saja, bisa mati kami itu,” katanya tertawa.

Untuk itu, dia menjalin komunikasi intensif dengan para narapidana. Salah satunya membuat tangan-tangan narapidana kreatif. Menghasilkan sejumlah uang dan membuat mereka sibuk sepanjang waktu. “Semoga berhasil,” harap Ely. |DI

Comments

comments